Variasi Olahan Gummy Herbal Kombinasi Temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb) dan Kunyit (Curcuma Domestica)

Author


Arum Margi Kusumawardani(1Mail), Lily Yulaikah(2), Rahayu Iskandar(3),
(1) Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta,
(2) Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta,
(3) Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta,

Mail Corresponding Author
Article Analytic
  [File Size: 206KB]  Language: en
Available online: 2024-07-29  |  Published : 2024-07-29
Copyright (c) 2024 Arum Margi Kusumawardani, Lily Yulaikah, Rahayu Iskandar
Article can trace at:

Article Metrics

Abstract Views: 410 times PDF Downloaded: 543 times

Abstract


Temulawak merupakan komponen penyusun hampir setiap jenis obat tradisional yang ada di Indonesia, sehingga dapat dikatakan temulawak merupakan primadona tumbuhan obat Indonesia1. Temulawak sudah dikenal secara luas dapat meningkatkan nafsu makan. Minyak atsiri dalam temulawak diduga memiliki efek untuk meningkatkan nafsu makan. Penelitian membuktikan bahwa minyak atsiri temulawak dapat meningkatkan nafsu makan tikus. Senyawa aktif kurkuminoid dari temulawak juga dianggap sebagai senyawa yang bertanggung jawab sebagai penambah nafsu makan, yaitu dengan memperbaiki kelainan pada kantung empedu dengan memperlancar pengeluaran cairan empedu dan pankreas, sehingga terjadi peningkatan aktivitas pencernaan2. Kunyit (Curcuma longa): komponen utama biologis aktif kunyit adalah kurkumin. Penelitian telah menunjukkan bahwa kurkumin memiliki antioksidan kuat, penyembuhan luka, dan sifat anti-inflamasi, yang terbukti menjadi terapi terhadap jerawat. Rempah yang berasal dari rimpang kunyit (Curcuma longa Linn) mengandung didalamnya antioksidan yaitu kurkuminoid dan gabungan senyawa lainnya (asam sinamat, eugenol, limonene, zingiberene, ?-turmerone, ?-turmerone, vanillic acid, minyak atsiri) yang terbukti dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh (imunomodulator) dari ancaman bakteri dan virus berbahaya dan telah teruji secara uji praklinis maupun uji klinis. Manfaat yang diperoleh dari kunyit ini tentunya perlu dimanfaatkan dengan membuatnya menjadi produk nutrasetikal yang berfungsi sebagai peningkat daya tahan tubuh3. Tujuan pengembangan produk untuk menghasilkan beberapa jenis sediaan jamu sehingga pangsa pasar menjadi lebih luas dan pendapatan meningkat. Olahan yang dihasilkan dalam bentuk gummy, selain dapat memberikan segudang manfaat juga meningkatkan keanekaragaman pangan, sekaligus memperpanjang masa simpan karena temulawak dan kunyit cepat dan mudah rusak. Hasil olahan gummy herbal dengan bahan dasar temulawak dan kunyit, dapat menjadi salah satu alternatif konsumsi herbal yang mudah dengan pangsa pasar kalangan muda hingga dewasa5. Hasil pengabdian menunjukkan rata-rata skor uji penerimaan rasa 3,5, rata-rata bobot sampel 7,99 gram, standar deviasi 0,296, dan koefisien variasi 3,7%. Kesimpulan kegiatan pengabdian didapatkan produk gummy herbal dengan ketepatan/ reproducibility yang baik dengan gambaran rasa yang dapat diterima.


Keywords


Curcuma xanthorrhiza Roxb ; Curcuma Domestica ; Gummy

References


Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Cetakan 1. Jilid 2. Trubus Agriwidya, Jakarta. 214 hlm.

Andini, I.M., M. Roviq, dan E. Nihayati. 2015. Pertumbuhan dan kadar kurkumin temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) pada ketersediaan unsur hara mikro (Mo) secara in vitro. Jurnal Produksi Tanaman 3(7): 542?546.

Anzar, L. 2016. Analisis Kandungan Zat Pewarna Sintetis Rodamin B pada Sambal Botol yang Diperdagangkan di Pasar Modern Kota Kendari. Skripsi. Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari. 46 hlm.

Cheah, Y.H., H.L. Azimahtol, and N.R. Abdullah. 2006. Xanthorrhizol exhibits antiproliferative activity on MCF-7 breast cancer cells via apoptosis induction. J. Anticancer Res. 26: 4527?4534.

Earle, R.L. 2000. Unit Operation in Food Processing. 2nd Edition or Letter. Pergamen Press, New York.

Choi, M.A., Kim S.H., Chung W.Y., Hwang J.K., and Park, K.K. 2004. Xanthorrhizol, a natural sesquiterpenoid from Curcuma xanthorrhiza, has an anti-metastatic potential in experimental mouse lung metastasis model. J. Biochem. Biophys. Res. Comm. 326(1): 210217.

Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Cetakan Pertama. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta. hlm. 28?30.

Fujiwara, H., M. Hosokawa, X. Zhou, S. Fujimoto, K. Fukuda, K. Toyoda, Y. Nishi, Y. Fujito, K. Yamada, Y. Yamada, Y. Seino and N. Inagaki. 2008. Curcumin inhibits glucose production in isolated mice hepatocytes. Diabetes Res. Clinical Practice 80: 188?191.

Perry, R.H. 2001, Perry Chemical Engineers Handbook, 7th ed, D.W. Green, TheMc.Graw-Hill Companies, Singapore.

Cahyono, B., M.D.K. Huda, dan L. Limantara. 2011. Pengaruh proses pengeringan rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza ROXB) terhadap kandungan dan komposisi kurkuminoid. Reaktor 13(3): 165?171.

Pratama, Daniel, Karakteristik Fisik, Kimia Dan Organoleptik Permen Keras Formulasi Kinang. 2018

Atmaka, W., E. Nurhartadi, dan M.M. Karim. 2013. Pengaruh penggunaan campuran karaginan dan konjak terhadap karakteristik permen jelly temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Jurnal Teknosains Pangan 2(2): 66?74.

Fatkurahman, R., W. Atmaka, dan Basito. 2012. Karakteristik sensoris dan sifat fisikokimia cookies dengan substitusi bekatul beras hitam (Oryza sativa L.) dan tepung jagung (Zea mays L.). Jurnal Teknosains Pangan 1(1): hlm. 49?57.

Prihastutik, Dwi. Marline Abdassah, Karagenan dan Aplikasinya di Bidang Farmasetik. 2019

Ditjen Hortikultura. 2015. Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2014. Kementerian Pertanian. www.hortikultura.pertanian. go.id.

Hadipoentyanti, E. dan S.F. Syahid. 2007. Respon temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) hasil rimpang kultur jaringan generasi kedua terhadap pemupukan. Jurnal Littri 13(3): 106? 110.

Peters, M. S. & Timmerhause, K. D. 1991. Plant Design and Economics For Chemical Engineers, United States of America, The McGraw-Hill Companies.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.